Ketagihan Traveling Bukan Tanpa Risiko…

KOMPAS.com – Memilih membuka ketimbang menutup mata saat melayang di atas ketinggian 200 meter di atas Danau Pokhara adalah pilihan sadar Sri Anindiati Nursastri, salah satu travel blogger, saat kali pertama melakukan terbang tandem paralayang.

“Itu kejadian dua tahun lalu,” tutur dara yang karib disapa Sastri, beberapa pekan silam.

Paralayang adalah olahraga ekstrem kali pertama yang dilakoni penulis blog perjalanan wisata ini. Menariknya, olahraga itu dilakoninya di negeri orang, Nepal.

“Waduh, gila nih parah banget! Gue bisa juga sampai di sini! Setelah bertahun-tahun pengin lihat (pegunungan) Himalaya, akhirnya…,” seru Sastri.

Bagi Sastri, kemudian, adrenaline rush yang dialaminya malahan membuatnya tak takut jika harus jatuh dari ketinggian itu. “(Kalau) gue mau jatuh? Jatuh aja, bodo amat!” katanya lagi.

Sastri mengaku, Nepal adalah destinasi incarannya sejak lama. Boleh dikatakan, negeri yang bertetangga dengan Tibet itu ada di dalam bucket list perjalanan idamannya.

“Ada prayer flags (bendera-bendera doa) di Nepal,” katanya yang merasa beruntung lantaran bisa bertandang ke Nepal gara-gara mendapat tiket promo penerbangan.

“Virus” Tintin

Dari hati kecil Sastri, sasaran perjalanan yang paling menjadi dambaan justru Tibet. Nah, inspirasi ke Tibet yang mengguncang-guncang hasratnya itu berawal saat dirinya membaca buku bergambar bertajuk Tintin in Tibet karya Herge.

Adalah Sang Ayah, Sulistio, yang memperkenalkan Tintin pada Sastri. Waktu itu, perempuan kelahiran 6 Februari 1988, baru berusia empat tahun.

Dokumentasi pribadi Sri Anindita Nursastri. Travel blogger, Sri Anindita Nursastri.

“Bapak baru pulang dinas dari Eropa dan membelikan (buku cerita bergambar) Tintin. Aku suka lihat gambarnya,” tutur pemilik akun @sastrii di Instragam ini.

Sastri berujar, Tintin in Tibet baginya adalah buku cerita bergambar pertama dari 20 serial Tintin, yang berlatar belakang bukan Eropa.

Dari buku itu, Sastri, mendapat gambaran bahwa orang Tibet bermata sipit dan berkulit coklat. Di Tibet juga ada salju.

“Tibet sepertinya penuh dengan ‘ingar-bingar’ dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya yang rapi,” ujarnya.

“Dari buku itu aku merasa kayaknya enak deh ke Tibet. Aku melihat panca inderaku jalan waktu baca Tintin in Tibet,”  imbuhnya.

Rasa ingin tahu yang terus-menerus berkecamuk di dalam hati, kata Sastri melanjutkan kisahnya, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh sosok Tintin yang berprofesi sebagai wartawan. Sepertinya, ada “virus” Tintin di benak Sastri. Tentu saja, virus dalam arti positif, bukan yang lain.

Profesi wartawan, dalam sudut pandang sementara kalangan, adalah profesi yang menuntut sikap skeptis, selalu mempertanyakan berbagai hal. Selain itu, wartawan harus mempunyai naluri cerdik untuk berpikir berbeda dengan kebanyakan orang demi menemukan kebenaran. Wartawan juga harus mampu mengeksplorasi berbagai tantangan sekaligus tidak mengenal kata berpuas diri.

Rasa itulah, kemudian, yang mendasari keinginannya untuk terus bepergian menikmati tempat-tempat wisata. “Traveling itu sama pentingnya dengan kebutuhan primer. Sastri sampai ketagihan traveling!” tulis laman mozaic.co.id tentang perempuan murah senyum ini pada 4 Desember 2015.

“Sebenarnya keinginan traveling muncul karena penasaran dengan tempat-tempat lain. Sekali saja traveling, kita sudah dilumuri perasaan adiktif. Pengen jalan lagi, lagi, dan lagi…,” kata Sastri, masih di laman tersebut.

Dok pribadi Sri Anindita Nursastri Travel blogger Sri Anindita Nursastri.

Saat melakukan perjalanan wisata, Sastri, pemilik blog https://anindiati.wordpress.com ini mengaku lebih suka menjadi traveler independen. Makanya, dirinya siap menanggung risiko untuk membuat daftar kunjungan sendiri.

Ia juga senang memperpanjang waktu berkunjung. Konsekuensi yang mesti ditanggung Sastri, lulusan Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini, adalah tambahan biaya penginapan dan makan. Andai perjalanan wisatanya ditanggung pihak lain, Sastri mengupayakan agar tiket perjalanan pulang sudah pasti diperolehnya.

Sastri paham, tetap saja ada risiko baik ringan maupun berat yang mengadang kegiatannya. Maka dari itulah, pribadi seperti Sastri dengan segudang kegiatannya sebagai travel blogger tetap memerlukan perlindungan asuransi untuk menghindari risiko kecelakaan.

Untuk kriteria layanan asuransi, program proteksi dalam jangka pendek bisa menjadi pilihan. Terlebih lagi, biasanya perjalanan hanya dipatok kurang lebih satu minggu.

Layanan dari FWD Life yang menyediakan fasilitas “Asuransi Bebas Aksi Flash”, misalnya, bisa jadi pilihan.

Ada tiga perlindungan pada fasilitas tersebut yakni risiko kecelakaan, penggantian pengobatan, sampai dengan perlindungan andai nasabah meninggal dunia. Tak cuma itu, premi fasilitas asuransi ini mulai dari Rp 30.000 berikut masa perlindungan sesuai jangka waktu kegiatan mulai dari hitungan sepekan.

Dengan begitu, tak perlu cemas berhadapan dengan risiko bahaya saat melakukan perjalanan bukan?
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/03/22/182700827/ketagihan.traveling.bukan.tanpa.risiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *