Kisah Kastari, Penjual Lontong Tuyuhan Turun-temurun Sejak 1950

LASEM, KOMPAS.com – Kastari (53) terlihat duduk di atas krat botol sore itu. Pandangannya terlihat kosong, berbeda dengan suasana sekitar yang ramai meski hujan. Di depannya, tepat bagian depan pikulan terdapat tiga baskom berisi daging ayam dan ati ampela yang berkuah kuning. 

Peci hitam yang warnanya sudah kusam ia gunakan sebagai penutup kepala. Sementara itu, di badannya terbalut kaus biru bertuliskan kampanye presiden Indonesia dari salah satu partai. Sandal hitam berbahan kulit jadi alas kakinya.

Kastari bangun dari duduknya begitu ada pembeli yang datang. Ia langsung sigap mengambil piring dan memotong lontong yang tersimpan di pikulannya. Kemudian, sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya.

“Mau daging apa? Dada, brutu, sayap, kepala, atau ati? Mau tambah tempe?” tanya Kastari kepada KompasTravel yang beberapa waktu lalu menyambangi Kabupaten Rembang.

BACA: Durian Asli Lasem dengan Rasa Pahit-Manis…

Kastari adalah salah satu penjual Lontong Tuyuhan di Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan yang terletak di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Setidaknya ada lebih dari lima penjual Lontong Tuyuhan di sentra kuliner itu.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Seporsi kuliner Lontong Tuyuhan tersaji di meja Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017). Lontong Tuyuhan berisi potongan lontong, daging ayam, dan kuah kuning.

Laki-laki beranak tiga itu bukanlah penjual pertama Lontong Tuyuhan. Adalah ayahnya, Karmani yang pertama kali berjualan di pinggir Jalan Lasem – Pandan, Desa Tuyuhan itu. Kemudian aktivitas berjualan dilanjutkan oleh kakak kandungnya, Karnuji.

“Saya pertama jualan tahun 1970. Pertama yang jualan itu bapak, terus kakak, lalu saya. Dulu dijual 150 perak. Kalau sekarang Rp 11.000,” kata Kastari saat berbincang dengan KompasTravel.

Resep Lontong Tuyuhan Kastari langsung diturunkan oleh ayahnya. Sejak kecil Kastari sudah membantu ayahnya berjualan dan membuat lontong.

Kakak Kastari berhenti berjualan Lontong Tuyuhan ketika menikah. Tonggak usaha keluarga itu dilanjutkan oleh Kastari.

Ia menuturkan bahwa ayahnya sudah mulai berjualan Lontong Tuyuhan sejak tahun 1950. Namun, ia tak mengingat pasti kapan ayahnya mulai berjualan.

“Lontong Tuyuhan itu asli Desa Tuyuhan, khas Rembang. Cuma ada di Tuyuhan sini,” jelasnya.

KOMPAS.com / Garry Andrew Lotulung Penjual Lontong Tuyuhan di Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan, Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (11/2/2017). Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan berada di Jalan Raya Lasem – Pandan. Lebih dari lima penjual Lontong Tuyuhan di sentra kuliner Lontong Tuyuhan.

Kastari mengingat cerita tentang ayahnya berjualan Lontong Tuyuhan. Ayahnya dulu berjualan di dekat gapura yang tak jauh dari sentra kuliner. Ayahnya juga berkeliling desa untuk berjualan.

“Yang beli di sini dulu orang Tionghoa Lasem. Orang Rembang juga. Makan di tempat atau dibungkus, dibawa pulang,” tambah Kastari.

BACA: Yuk, Berburu Foto Instagramable di Lasem

Sebelum sentra kuliner dibangun, Kastari menceritakan ayah dan kakaknya berjualan di tepi jalan. Tak jauh dari tempat berjualan, terdapat ladang tebu.

Sejak dulu ayahnya berjualan Lontong Tuyuhan dengan cara dipikul. Cara yang sama, Kastari gunakan juga meski saat ini ia tak berkeliling desa untuk menjajakan Lontong Tuyuhan. Ia tetap mempertahankan gaya ayahnya berjualan walaupun pemerintah setempat memberikan bantuan berupa etalase untuk menaruh baskom daging ayam.

KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Penjual Lontong Tuyuhan memotong lontong untuk disajikan bersama daging ayam dan kuah kuning di Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan, Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017). Sentra Kuliner Lontong Tuyuhan berada di Jalan Raya Lasem – Pandan. Lebih dari lima penjual Lontong Tuyuhan di sentra kuliner Lontong Tuyuhan.

“Dulu saya sudah bantu bapak. Saya kadang bawa pikul, bapak yang ngelayani pembeli,” ujarnya.

Saat ini Kastari berjualan Lontong Tuyuhan mulai pukul 12.00 hingga pukul 21.00 WIB. Sehari-hari ia kadang dibantu oleh anaknya saat berjualan.

BACA: Lasem, Destinasi Wisata Akhir Pekan yang Bakal Hits pada Tahun 2017

Setiap hari Kastari bisa menjual sekitar 100 porsi. Sementara jika hari libur, ia bisa menjual sekitar 200 porsi. Untuk hari libur seperti Lebaran, Tahun Baru, atau Natal ia bisa menjual lebih banyak lagi.

Lontong Tuyuhan sendiri adalah kuliner perpaduan potongan lontong, daging ayam, dan kuah kuning. Bumbu Lontong Tuyuhan adalah ketumbar, jinten, bawang merah, bawang putih, daun jeruk, laos, cabai, garam, pala, kunyit.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/02/22/060400727/kisah.kastari.penjual.lontong.tuyuhan.turun-temurun.sejak.1950

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *