Oh, Jenewa Yang Kusayang…

KOMPAS.com – Di wilayah perbatasan antara Swiss dan Perancis  tidak terdapat lagi kontrol paspor.

Mobil berpelat Perancis berlalu lalang sesuka hati memasuki wilayah kota Jenewa di Swiss dari wilayah Gaillard (baca Gaya) negara Perancis. Kedua kota ini hanya bertetangga.

Aktivitas keseharian berlangsung normal, hidup rukun tanpa terusik karena perbedaan bangsa. Bahkan menjadi keragamanan kultur yang menguntungkan satu sama lain melalui percakapan bahasa,  pertukaran pendidikan, kuliner, tradisi, dan kearifan lokal setempat.

(BACA: Mengunjungi The Batlle of Waterloo di Belgia)

Dari sini, saya mengawali menjelajahi kota Jenewa menggunakan kendaraan umum yaitu trem dan bus hingga berjalan kaki.

MADE AGUS WARDANA Air mancur Jet d’Eau di Jenewa, Swiss, yang artinya air jet atau air mancur yang melambung tinggi hingga 140 meter.

Cuaca sangat terik di bulan September 2016 lalu, diantar oleh Ibu Pascale Mareschi sebagai “guide sehari” mengantar dan mengunjungi tempat menarik selama berada di sini.

Ibu Pascale Mareschi warga Swiss ini seorang pecinta gamelan Bali yang bersuamikan warga Perancis keturunan Italia.

(BACA: Nikmatnya Sate Lilit dan Lawar Bali di Bazar Belgia)

Mereka dikaruniai seorang anak bernama Amandine, seorang penabuh dan penari Bali yang sangat aktif mencintai budaya Indonesia.

MADE AGUS WARDANA Keluarga Mareschi di Jenewa, Swiss, sebagai keluarga multikultur yang sangat menghargai budaya orang lain. Ibu Pascale Mareschi warga Swiss ini seorang pecinta gamelan Bali yang bersuamikan warga Perancis keturunan Italia.

Keluarga Mareschi sebagai keluarga multikultur yang sangat menghargai budaya orang lain, saya anggap menjadi keluarga terdekat dan erat. Kunjung mengunjungi sudah beberapa kali kita lakukan untuk menambah eratnya persahabatan kita.

Kota Jenewa berhias danau biru bersih nan cantik. Air danau memantulkan sinar surya menerangi kembali pesisir danau.

Siapa pun yang melewati tepi danau, akan terasa nyaman mendengar riak air terempas angin danau yang asoi.

Apalagi angsa putih dengan sangat anggun bercengkerama antar sesamanya. Saling cubit, saling gigit, colak-colek, kejar-kejaran sambil menggoda angsa yang lain.

MADE AGUS WARDANA Angsa putih di danau biru nan cantik di Kota Jenewa, Swiss.

Si angsa nampaknya sangat tenang hidupnya, disayangi, diberi makan tanpa ada rasa takut terhadap manusia di sekelilingnya.

Saya berdiri di tepi danau memusatkan perhatian dan memandang  angsa sedang bercengkerama.

Mata saya usil memelototi seekor angsa besar yang tampak linglung menoleh ke arah saya. Matanya bereaksi dengan berkedip-kedip cepat, menoleh ke kiri dan ke kanan.

Lama kelamaan si angsa tampak cuek melihat ekspresi saya. Cuek tanpa beban dan berbahagia, seolah-olah nyindir si angsa membisikkan sesuatu bahwa air danau ini harus dijaga kebersihannya.

MADE AGUS WARDANA Angsa putih di danau biru nan cantik di Kota Jenewa, Swiss.

Jangan buang sampah plastik sembarangan agar kita  para angsa tersenyum sumringah setiap saat. Mengerti nggak sih manusia?

Jet-d’Eau air mancur tertinggi di dunia

Udara musim panas masih menyengat hingga 30 derajat. Di tengah danau Jenewa menjulang tinggi sebuah air mancur yang disebut Jet d’Eau (baca Jetdo) yang artinya air jet atau air mancur yang melambung tinggi hingga 140 meter.

Air danau Jenewa ini mengalir menuju Sungai Rhone. Sebagai ikon wisata kota, turis-turis dengan sangat mudah melihat dari berbagai sudut pandang.

MADE AGUS WARDANA Air mancur Jet d’Eau di Jenewa, Swiss, yang artinya air jet atau air mancur yang melambung tinggi hingga 140 meter.

Lebih menarik lagi jika sempat mengelilingi danau dengan sebuah kapal air yang melintas setiap 15 menit di daerah tersebut.

Menurut informasi bahwa tahun 2016 Jet d’Eau berulang tahun ke-125. Semburan air ke udara adalah 7.000 liter, kecepatan 200 km/jam.

Karena kekuatan embusan angin semburan air bisa mengarah ke kiri, ke kanan atau kesamping dalam setiap hitungan detik.

MADE AGUS WARDANA Bergaya sambil berwisata di Jenewa, Swiss.

Pada awalnya pemerintah Jenewa membangun Jet d’Eau ini untuk sistem pengairan ke kawasan seluruh wilayah Jenewa dengan memanfaatkan air danau tersebut yang mengalir ke Sungai Rhone.

Pada tahun 1951, pemerintah setempat memperbarui mesin pemompa yang menghasilkan semburan air bertambah kuat dan tinggi.

Untuk itulah karena kemampuan menyemburkan air dengan ketinggian 140 meter, Jet d’Eau dinobatkan sebagai air mancur tertinggi di dunia.

Cottage Café, teduh dengan panorama danau

Rugi besar kalau anda tidak sempatkan berkunjung ke Cottage Café ini.

MADE AGUS WARDANA Cottage Café di Jenewa, Swiss yang berada di ruang terbuka hijau.

Berada persis di ruang terbuka hijau, di depannya monumen Brunswick, sebuah monumen makam penghormatan terakhir untuk Charles II, Duke Brunswijck (1804-1873) yang meninggal dunia di Swiss.

Di Cottage Café ini tersedia berbagai hidangan khas Eropa, tapas, snack ringan, wine, bir, dan aneka salad.

Kafe mungil dengan lantai batu hitam pilihan, berdinding buram warna kayu alami membuat suasana sangat eksentrik. Cocok untuk pecinta keindahan, dengan suasana ramah dan teduh.

MADE AGUS WARDANA Monumen Brunswick di Jenewa, sebuah monumen makam penghormatan terakhir untuk Charles II, Duke Brunswijck (1804-1873) yang meninggal dunia di Swiss.

Bersama keluarga Mareschi, saya memilih tempat ini sambil melihat pemandangan panorama indah danau Jenewa yang terbentang luas di depan mata.

Kapan lagi bisa menikmati suasana hangat dan teduh ini sambil meneguk bir putih asli Swiss menghilangkan rasa haus karena kepanasan.

Di sini harga makanan dan minuman masih terjangkau. Misalnya salade salmon merah seharga 16 euro sedap di rasa puas di hati.

MADE AGUS WARDANA Kartu pos kota Jenewa.

Untuk mencari alamat Cottage Café, para turis dapat mencari di goggle map yang beralamat di Adhemar Fabri, 7 – 1201 Jenewa, dibuka untuk umum pukul 07.30 – 24.00.

Ingin kembali ke Jenewa

Kalau saya boleh memilih untuk menikmati wisata alam saya masih tetap memfavoritkan Swiss.

Negeri mungil ini dikelilingi pegunungan bersalju, tebaran danau air biru, bersih di segala tempat, warga multikultur dan infrastruktur termodern membuat para pelancong bermanja menghabiskan waktunya berhari-hari.

MADE AGUS WARDANA Salad salmon merah di sebuah kafe di Swiss.

Walaupun harga-harga lumayan mahal dibanding negara Eropa lainnya, tapi dari segi kualitas berwisata di sinilah pilihan.

Namun demikian biaya mahal bukanlah menjadi soal utama, ketika kita memiliki teman atau sahabat untuk menginap di salah satu kota di Swiss.

Terus terang untuk yang kesekian kalinya saya ke Swiss, saya selalu menginap di rumah sahabat. Dengan demikian ongkos hotel dalam beberapa hari dapat tersimpan dan bisa digunakan untuk keperluan yang lain misalnya membeli oleh-oleh, ke restoran pilihan dan lain-lain.

ARSIP MADE AGUS WARDANA Penulis di kota Jenewa, Swiss.

Barangkali inilah yang disebut persahabatan membawa berkah. Bersahabat dengan keluarga Mareschi yang baik hati.

Mereka sangat welcome menyambut saya ketika berada di Swiss selama 5 hari workshop gamelan Bali.

Workshop gamelan dengan warga Swiss membuat persahabatan saya dengan para penabuh gamelan itu terjalin dengan baik.

MADE AGUS WARDANA Grup Gamelan Danu Sari di Jenewa, Swiss.

Pada saat itu pula, kita berhasil membentuk sebuah grup gamelan Bali baru yang bernama Grup Gamelan Danu Sari, yang artinya air danau murni dan membawa berkah untuk masyarakatnya.

Aduh… jadi ingin kembali lagi ke Jenewa… (MADE AGUS WARDANA, tinggal di Belgia)

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/02/26/072200727/oh.jenewa.yang.kusayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *