Sensasi Menyeruput Kopi Berlatar Belakang Gunung Sindoro-Sumbing

TEMANGGUNG, KOMPAS.com – Tempat subur memang selalu menyuguhkan panorama alamnya tersendiri. Salah satunya Temanggung yang berada di Jawa Tengah, kota di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tersebut memiliki pesona alam yang tak kalah eksotis.

Bentang alam yang sangat subur membuat kota kecil ini kaya akan hasil alam, salah satunya Tembakau. Namun, salah satu yang tak boleh dilewati ialah menyeruput kopi sembari menelusuri ranumnya perkebunan di kaki Gunung Sindoro Sumbing.

Berlokasi di Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kabupaten Temanggung, lokasinya cukup tersembunyi dari gemerlapnya kota. Sesampainya di Dusun Jambon, embun pegunungan pun menyambut wisatawan yang sudah tak sabar.

Sebuah rumah, bertuliskan RT 06 RW 04 terlihat dari sela-sela kebun sayuran. Sejauh mata memandang hanya terlihat hijaunya perkebunan sayur, kopi, dan dua gunung gagah yang menjaganya.

(BACA: Menyeruput Kopi di Garasi Mobil Ali Sadikin)

Kedatangan wisatawan disambut senyuman khas petani kopi yang namanya kian tersohor di kalangan penikmat kopi. Wisatawan pun bertanya, apakah rumah hijau sederhana ini yang menyimpan rahasia kenikmatan kopi temanggung?

“Benar mas, di sini Rumah Kopi Mukidi Temanggung. Monggo silakan masuk,” sapa Mukidi, petani kopi Temanggung, Jumat (3/2/2017).

Di rumah sederhana tersebut, Mukidi menyulapnya menjadi tempat menikmati pesona kopi yang tak hanya dari secangkir minuman.

Karena di rumah inilah Anda bisa mempelajari berbagai jenis biji kopi Temanggung, proses me-roasting, metode pembuatan kopi, hingga tersaji.

KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Menikmati kopi arabika khas Temanggung, langsung di kaki Sunung Sindoro-Sumbing, sentra Rumah Kopi Mukidi, Temanggung, Jawa Tengah.

“Yang paling beda di sini, kita masih bisa ngopi sambil ngobrol langsung sama petani, roaster, barista, sekaligus owner Kopi Mukidi,” ujar Dimas, salah satu wisatawan asal Semarang yang saat itu berkunjung.

(BACA: Kim Teng, Kedai Kopi Legendaris di Pekanbaru)

Di tempat ini lah kopi diolah mulai bentuk cherry, pengemasan, hingga siap dihidangkan. Metode yang bisa digunakan untuk menghidangkan kopi pun terbilang lengkap, ada tubruk, vietnam drip, v60, shypon, rokpresso, kopi mokapot, frenchpress, dan late. Padahal rumah kopinya berada di pedalaman desa.

Sore itu Mukidi baru saja pulang dari kebun, sayangnya wisatawan tidak bisa mengunjungi kebun tersebut saat sore hari, dikhawatirkan hujan deras saat di tengah luasnya kebun.

“Kalau datang siang, wisatawan biasanya trip dulu ke kebun kopi milik saya juga warga lain,” ujarnya.

Sangat unik memang, melihat seorang petani desa yang biasa bekerja di kebun, tapi sangat terampil mengoperasikan alat roasting, bahkan alat penyajian kopi seperti shypon. Inilah konsep yang digagas Mukidi, yaitu petani harus bisa mandiri di era keterbukaan ini.

Di dalam, Anda bisa melihat semua proses tersebut secara langsung. Mukidi dibantu sang istri dan satu karyawan untuk mengoperasikan alat-alat sekaligus menangani tamunya.

Biji kopi yang tersaji semua merupakan asli Temanggung, di antaranya arabika, robusta, ecelssa, luwak, brown dan white coffee. Jenis Arabica Temanggung, dengan metode shypon pun dipilih KompasTravel untuk menemani di tengah dinginnya suasana pegunungan.

Jika Anda ingin menikmati suasana alamnya, beranjaklah ke teras rumah tersebut. Beberapa pasang kursi dengan suasana perkebunan dan gunung menambah kenikmatan kopi di sore hari.

Terlebih obrolan renyah bersama masyarakat desa membuat tak terasa mengantarkan wisatawan ke malam hari.

Mukidi mendalami dunia kopi sejak ia kecil di keluarga petani tembakau dan kopi. Mulai 2001 ia menekuninya sendiri, dengan mengusung konsep petani mandiri.

KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Kopi Mukidi, salah satu kopi arabika asal Temanggung yang tersohor karena cirikhas aroma tembakau Temanggungnya.

“Seorang harus petani bisa efektif memanfaatkan sempitnya lahan, dengan mendapatkan hasil maksimal. Dengan menghitung mulai pasca panen hingga penyajian,” ujarnya menjelaskan konsep petani mandiri.

Berkunjung ke sini benar-benar menyajikan pengalaman berbeda dalam menikmati wisata kopi. Anda juga bisa membeli kopi kemasan berbentuk bubuk atau biji sebagai oleh-oleh khas Kopi Temanggung. Harga untuk 100 gr kopi arabika Rp 25.000, robusta Rp 15.000, dan special blend Rp 25.000.

“Rencananya saya dengan beberapa warga juga mau mengembangkan wisata kopi ini dengan kebudayaan-kebudayaan Temanggung, nanti satu paket wisatanya,” ujarnya pada KompasTravel.

Harapannya, satu tahun lagi, lantai dua rumahnya yang sedang dibangun tersebut akan menjadi tempat menikmati kopi dengan pemandangan langsung ke pegunungan.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/02/18/145200027/sensasi.menyeruput.kopi.berlatar.belakang.gunung.sindoro-sumbing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *