Teknik Aklimatisasi Untuk Menghindari AMS Saat Mendaki Gunung

JAKARTA, KOMPAS.com – Mendaki gunung merupakan aktivitas outdoor yang menyehatkan. Dalam mendaki gunung, tubuh kita akan dituntut untuk selalu bergerak dan harus dalam keadaan sehat bugar.

Oleh karena itu, latihan fisik dan mental sebelum naik gunung sangat dibutuhkan, apalagi untuk mendaki gunung di atas 4.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dalam mendaki gunung baik, ada salah satu teknik yang harus pendaki pelajari untuk menghindari gejala terkena penyakit Acute Mountain Sickness atau AMS.

“Teknik tersebut adalah teknik aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasuki. Untuk mendaki gunung, konteks aklimatisasi di sini adalah penyesuaian tubuh terhadap ketinggian tertentu,” kata Mountain Guide di Indonesia Expeditions, Rahman Muchlis pada acara ‘Sharing Tips dan Pengalaman Mendaki Gunung di Atas 4.000 mdpl’ di Consina Store Buaran, Jakarta, Sabtu (25/2/2017).

Pada kesempatan itu Rahman memberikan berbagai tips kepada para peserta yang hadir. Berikut KompasTravel rangkum tips untuk melakukan aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap ketinggian pada saat mendaki gunung.

1. Mendakilah dengan ritme yang konstan dan perlahan, hindari mendaki terlalu cepat saat memasuki zona altitude yang lebih tinggi.

2. Untuk proses aklimatisasi yang lebih baik, Rahman menjelaskan, “Mendakilah ke tempat yang lebih tinggi dan bermalamlah di tempat yang lebih rendah.”

Firman Firdaus/National Geographic Indonesia Siluet pendaki di puncak Gunung Tambora berketinggian 2.850 meter. Gunung bertipe stratovolcano aktif ini terletak di Pulau Sumbawa, Indonesia dan pernah mengalami letusan mahadahsyat tahun 1815.

Contohnya dalam kasus mendaki gunung di atas 4.000 mdpl, jika jarak antara pos A dan pos B melampaui ketinggian 4.000 mdpl, dari pos A mendakilah ke pos B.

Kemudian, turunlah kembali ke pos A untuk bermalam di sana. Proses ini akan membuat aklimatisasi berjalan lebih baik.

3. Minum secara teratur. Aklimatisasi sering kali disertai dengan kehilangan cairan, sehingga kita perlu untuk minum teratur setidaknya 4-7 liter per hari. Output urin juga harus berlimpah dan jernih.

4. Makan-makanan berkalori tinggi.

5. Istirahat dan tidur yang teratur, kurang lebih 6-8 jam. Kurangnya istirahat dan tidur akan membuat kerja tubuh kurang maksimal.

6. Tenang dan tidak terlalu banyak melamun. Lakukanlah aktivitas ringan untuk menjaga tubuh supaya tetap bergerak.

Disarankan juga untuk beraktivitas di cahaya matahari pada siang hari daripada tidur. Jika tidur, intensitas pernafasan akan menurun dan memperburuk gejala AMS.

7. Hindari mengonsumsi alkohol, tembakau, dan obat penenang (contohnya obat tidur). Hal ini dapat menghambat pernafasan dan memperburuk gejala AMS.

8. Gunakan seluruh pakaian dan peralatan sesuai dengan kebutuhan dan ketinggiannya.

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia menuruni Gunung Merapi (2.896 mdpl) sambil memungut sampah di jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (8/6/2014).

9. Jika mulai terjadi gejala penyakit ketinggian seperti pusing, mual, dan sesak nafas, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala tersebut hilang. Jika gejala meningkat, turunlah ke tempat yang lebih rendah.

10. Perlu diingat bahwa kemampuan adaptasi setiap orang terhadap ketinggian berbeda-beda. Pastikan setiap orang dalam tim Anda telah beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian dan iklimnya sebelum naik ke tempat yang lebih tinggi.

“Untuk menjalankan proses aklimatisasi, pendaki dituntut untuk tetap sabar dan disiplin. Ingat bahwa tujuan mendaki gunung tidak hanya menggapai puncaknya, tapi untuk kembali berkumpul bersama orang tersayang di rumah,” tutup Rahman.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/02/26/215400927/teknik.aklimatisasi.untuk.menghindari.ams.saat.mendaki.gunung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *