Wisata Tak Biasa, Melihat Persahabatan Duyung Dan Pak One Di Alor

ALOR, KOMPAS.com – Onesimus Laa (51) mematikan mesin kapal kayunya. Kemudian laki-laki yang akrab disapa One ini berdiri dan berkata, “Datang sini, ini ada tamu datang”.
 
Tak berapa lama muncul makhluk laut yang meliukan tubuhnya mengikuti gelombang. Kulitnya tampak licin berwarna abu-abu pucat. Liuk terakhir makhluk itu memperlihatkan ekornya yang besar, berukuran sekitar satu meter. Itulah duyung yang memiliki nama ilmiah Dugong dugon. 
 
“Saya pertama kali bertemu dia (dugong) tahun 2009. Pertama saya pergi dengan kapal dia ikuti saya. Pulang dari laut dia antar saya, ada sekitar empat kali,” cerita One. 
 
Ia percaya pertemuannya dengan dugong diawali oleh niatnya yang ingin menjaga lingkungan. Sejak tahun 2007, One memang aktif menanam tanaman bakau di Pulau Sika, pulau tak berpenghuni di daerah timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
 
Tahun 2009, One didampingi oleh WWF Indonesia, berusaha melestarikan magrove dan biota laut dilindungi di kawasan perairan Alor, khususnya Pantai Mali. Bagikan sepasang sahabat karib, dugong dan One seakan bisa berkomunikasi satu sama lain.
 
“Dugongnya datang kalau saya pakai motor perahu yang ini,” kata One.
 
Tak hanya suara motor perahu, menurut One, dugong juga mengerti gerakan tubuh. Contohnya saat One berenang berputar menyerupai bentuk spiral, dugong juga akan mengikuti. Atau, saat One menyuruh dugong pergi karena ia akan pulang, One akan melambaikan tangan. Lantas, dugong tersebut akan pergi dan tak mengikuti One. 
 
Kompas.com/Silvita Agmasari Onesimus Laa, aktivis lingkungand ari Alor, NTT
 “Kalau saya mau ke luar kota beberapa hari, saya pesan ke Dugong supaya dia jangan berenang keluar teluk, nanti takut di bom orang. Saya pulang dia masih ada di teluk,” kata One. 
 
Betapa beruntungnya saat One mengizinkan tim media dan WWF Indonesia untuk mengamati tingkah laku dugong di perairan Pantai Mali. Kami diperbolehkan berenang di laut untuk melihat dugong, tetapi dengan syarat tertentu.
 
Syarat itu antara lain tak boleh menertawakan dugong dan paling penting tak boleh menyentuh dugong sekalipun dugong menghampiri. Apabila dugong mendekat, kami harus berenang menjauhi dugong.
 
“Biasa ada dua dugongnya, tetapi satu lagi habis melahirkan. Anaknya masih kecil sekali. Saya lihat pertumbuhan anak dugingnya sangat lambat,” kata One menunjuk dugong dengan kisaran ukuran tiga meter.
 
Pengalaman luar biasa adalah saat melihat dugong secara langsung di habitatnya dan melihat dugong makan lamun di dasar laut. Mulutnya mengunyah lamun layaknya sapi mengunyah rumput.  
 
Pariwisata bertanggung jawab
 
Lama kelamaan dugong di Pantai menjadi daya tarik wisata di Alor. Meski begitu One yang bisa disebut sebagai pawang dugong tak lantas menjadikan dugong sebagai obyek wisata. One memperlakukan dugong layaknya rekan dengan mengikuti dasar yang memikirkan keberlanjutan dugong tersebut. 
 
“Wisata yang bertanggung jawab adalah wisata yang mengutamakankan aspek lingkungan, mendorong keberlanjutan. Supaya aset atau modal aneka hayati pariwisata tetap terjaga,” kata Marine and Fisheries Campaign Coordinator WWF Indonesia, Dwi Aryo Tjiptohandono. 
 
Kompas.com/Silvita Agmasari Dugong di Pantai Mali, Alor.
One telah melaksanakan dan menghimbau wisatawan pariwisata berkelanjutan sesuai panduan untuk wisata bahari mengamati mamalia laut. Di antaranya dengan membiarkan dugong bergerak bebas, tak menyentuh atau mengejar dugong, tak memberi makan, dan mengatur kecepatan kapal. 
 
“Ke depan saya tak mau wisatawan berenang bersama dugong, karena dugong ini semakin lama semakin mendekat ke orang. Biar diamati dari perahu,” kata One. 
 
One membatasi kunjungan wisatawan untuk mengamati dugong, terbatas satu perahu isi lima orang dengan sehari hanya boleh ada dua kali kunjungan. Untuk harga, One tak mematok harga alias disesuaikan dengan kondisi.
 
Tak hanya pariwisata, One yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Nelayan Alor juga melarang perburuan hewan langka dan menghimbau penangkapan ikan dengan metode ramah lingkungan.
 
Saat ini dugong termasuk makhluk laut yang terancam punah karena jumlahnya yang terus berkurang. Ancaman bagi dugong antara lain faktor alam, manusia, dan biologis. Di Indonesia perburuan dugong dilakukan bukan untuk daging, melainkan taring dan air mata dugong yang menurut mitos memiliki khasiat tertentu. 

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/03/25/230300527/wisata.tak.biasa.melihat.persahabatan.duyung.dan.pak.one.di.alor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *